Rumah

     Persimpangan jalan ini terlampau membingungkan. Aku terjebak di antara gelap yang menyedihkan. Semakin aku berlari, semakin aku tersesat tanpa tempat yang pasti. Sebenarnya dimana aku? 

    Aku kembali merasakannya. Ketika tubuhku berada di tempat yang sama, tetapi jiwaku melayang entah kemana. Aku tidak mati, hanya terjerembab ke dalam jurang depresi. Hampa. Kosong. Tidak ada suara. Hanya bingung dan sepi yang menggelayuti. Kemana aku harus berlari? Ketika semua tempat tak lagi bisa kusinggahi?

    Ku pikir, aku bisa pulang setelah semua luka yang menghampiri. Tempat nyaman yang kuanggap akan memelukku, nyatanya bukan rumah yang kucari. Rumah itu berbeda, dan tidak ada tempat untukku benar-benar melepas lelah. Entah bahan bangunannya yang salah, atau fondasinya yang tidak sempurna. Nyatanya, rumah itu goyah. 

    Setelah semua yang terjadi, aku masih harus mencari. Berusaha menemukan arti, untuk apa aku berada di sini? Seseorang pernah mengatakan padaku, aku di sini karena menyetujui 77 pertanyaan yang pernah Tuhan sampaikan di masa lampau. Namun, mengapa Tuhan membuatku lupa akan semua pertanyaan itu? Kemana aku harus mencari jawaban dari semua pertanyaan yang pernah diberikan? Bahkan aku tidak tahu, apa jawaban dari semua pertanyaan yang bergelayut dalam kepalaku.

    Dimana rumahku? Kemana aku harus pergi?

Comments